Menu Content/Inhalt
BAGIAN AWAL arrow KONSEP AL SYUKRO
Konsep Pendidikan Islam Al Syukro PDF Print E-mail
Written by Al Syukro   
Article Index
Konsep Pendidikan Islam Al Syukro
Page 2



Menyadari bahwa ummat Islam dihadapkan pada tantangan berat untuk menyiapkan sebuah generasi mendatang yang unggul, Yayasan Wakaf Daar Asykaril ’Ibaad (YAWADA’I) terdorong untuk dapat menyelenggarakan pendidikan Islam, yang kemudian disebut Sekolah Islam Al Syukro, terdiri dari Taman Pendidikan Al Quran (TPA), Kelompok Bermain (KB), Taman Kanak-Kanak (TK), Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP).
Sebagai bentuk partisipasi untuk mewujudkan generasi mendatang yang unggul, Sekolah Islam Al Syukro dikelola dengan prinsip-prinsip sebagai berikut:

1.
Pendidikan diletakkan pada 4 pilar sebagaimana yang ditetapkan oleh UNESCO. Yakni, (1) learning to know, yakni belajar agar seseorang menjadi tahu. (2) learning to do, yakni belajar agar seseorang mampu berbuat dan memecahkan masalah. (3) leraning to be, yakni belajar agar seseorang menjadi punya arti dalam hidupnya, sukses, tampil berprestasi dan menjadi pembawa manfaat. (4) leraning to live together, yakni belajar agar seseorang mampu hidup bergandengan dengan orang lain bahkan menjadi pemimpin di zamannya. Dengan 4 pilar pendidikan tersebut, pendidikan di Sekolah Islam Al Syukro diarahkan agar mendorong setiap peserta didik menjadi berpengetahuan, mempunyai sikap yang baik, mampu menunjukkan prestasinya serta memiliki kemampuan leadership.
2. Pendidikan sebagai investasi sepanjang hayat, sehingga pembelajaran yang mampu mengakomodasinya adalah life long learning. Seiring dengan tuntunan Rosulullah SAW; “Belajarlah kamu semenjak lahir sampai mati”, maka siswa/i Al Syukro didorong agar mempunyai motivasi untuk terus belajar, kapanpun, di manapun, dari dan dengan siapapun. Motivasi untuk terus belajar ditanamkan dalam pembelajaran leadership.
3. Proses pendidikan bukanlah sistem transformasi pengetahuan semata, tetapi usaha untuk menumbuh kembangkan potensi siswa, sehingga setiap siswa dapat sukses walaupun dengan keragaman potensinya. Kecerdasan siswa tidak bias diukur dari segi kognitifnya saja, tetapi juga afektif (sikap) dan psikomotor (keterampilan). Kecerdasan siswa sangat beragam, yakni Linguistik Intelegence (kecerdasan berbahasa), Logical mathematical intelligence (kecerdasan logika-matematika), Spatial intelligence (kecerdasan spasial), Bodily-kinestetik intelligence (kecerdasan gerak tubuh), Musical intelegnce (kecerdasan musik), Interpersonal Intelligence (kecerdasan menjalin hubungan baik dengan sesama), Natural intelegence.
4.

Proses pembelajaran bertujuan untuk membentuk pribadi-pribadi pemimpin masa depan. Karena pribadi yang sukses di masa depan bukan semata berasal dari lulusan sekolah yang mempunyai nilai akademik tinggi seperti tertuang di buku raport. Kepribadian sukses mempunyai 7 kemampuan, yakni:

1. Mengenal diri sendiri (understanding self)
2. Berkomunikasi (communication skill)
3. Kemampuan
4. Belajar untuk belajar (learning to learn)
5. Membuat keputusan (making decision)
6. Mengelola (managing)
7. Bekerja dalam kelompok (working with goups)

5.
Ilmu pengetahuan dengan ilmu agama bukanlah dua sisi yang berbeda. Al Quran merupakan dasar ilmu pengetahuan. Oleh karena itu pendidikan agama terintegrasi dalam pendidikan lainya.

6.
Siswa merupakan pusat kegiatan belajar, sebagai pelaku dan tolak ukur keberhasilan proses pendidikan. SEbagai pusat belajar berarti segala aktifitas belajar difokuskan untuk membentuk kepribadian siswa. Sebagai pelaku berarti siswa mempunyia peran yang besar dalam kegiatan belajar di kelas maupun di luar kelas. Siswa sebagai subjek, yang aktif dalam kegiatan belajar, yang kemudian disebut Active Learning. Implikasinya, bahwa guru berperan sebagai fasilitator, yang membantu membimbing siswa.
7.
Siswa dapat belajar bukan hanya dari guru, tetapi dari berbagai sumber daya yang ada di sekelilingnya. Orang tua, para ahli, kalangan professional merupakan sumber belajar. Selain buku pelajaran, siswa dapat juga belajar dari televisi, radio, media cetak dan lingkungan sekitarnya. Pemanfaatan berbagai hal yang ada di sekeliling rumah dan sekolah dapat mendukung keberhasilan belajar.
8.
Kegiatan belajar dilaksanakan secara utuh dalam sehari. Sistem Full Day School membuat siswa terkondisikan dalam belajar dari waktu ke waktu. Senin sampai Jum’at siswa belajar di sekolah dari pagi sampai sore, sedangkan Sabtu-Minggu adalah waktu untuk keluarga. Apakah siswa mengalami kejenuhan selama satu hari penuh di sekolah? Metode belajar yang digunakan guru dirancang agar siswa menikmati kegiatan sehari-hari di sekolah.